Orang yang paling sulit menikmati hidup biasanya paling sibuk mengendalikan semuanya. Saya mengakuinya dengan jujur, waktu dulu saya termasuk golongan itu. Setiap rencana saya susun rapi sampai ke hal-hal kecil. Jadwal kerja, keuangan, bahkan bayangan lima tahun ke depan, semua saya tata sendiri. Dan setiap kali hasilnya melenceng sedikit saja, saya marah. Kepada keadaan, kepada orang lain, dan pelan-pelan kepada diri sendiri yang tidak sanggup menjaga semuanya tetap rapi. Sampai ada titik di mana tubuh dan pikiran saya menolak untuk terus waspada. Di situlah Alkitab memberi kalimat yang sebelumnya hanya saya anggap hafalan. Amsal 3:5-6 tidak pernah terdengar seberat itu sampai saya membaca pelan-pelan: "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." Bagian paling mengganjal buat saya bukan kalimat "percayalah". Mengatakan percaya itu gampa...
Beberapa kali dalam sebulan terakhir saya melihat anak-anak muda berganti foto profil, berganti gaya bicara, berganti selera musik, mengikuti tren terbaru. Bukan hal yang salah, semua orang pernah melakukannya. Hanya saja di balik semua pergantian itu tersimpan pertanyaan jati diri sederhana: saya ini sebenarnya siapa? Pertanyaan itu kerap datang di malam hari, saat ponsel sudah mati dan kamar sedang sunyi. Usia remaja memang musim paling membingungkan untuk urusan identitas. Baru kemarin merasa dewasa, hari ini merasa belum siap apa-apa. Sekolah menuntut nilai, media sosial menuntut penampilan, orang tua menuntut tanggung jawab, teman menuntut kesetiaan. Di tengah tuntutan yang saling tarik itu, wajar kalau banyak anak muda Kristen bertanya-tanya di mana Allah dalam semua kebingungan ini. Tulisan ini mencoba menjawab dari sisi yang jarang dibuka: apa kata Alkitab tentang siapa kita, sebelum dunia sempat memberi label. Sebelum Dunia Memberi Label Kejadian 1:27 mencatat kalimat ...