Langsung ke konten utama

Postingan

Berserah kepada Tuhan: Renungan Kristen tentang Melepaskan Kendali

Orang yang paling sulit menikmati hidup biasanya paling sibuk mengendalikan semuanya. Saya mengakuinya dengan jujur, waktu dulu saya termasuk golongan itu. Setiap rencana saya susun rapi sampai ke hal-hal kecil. Jadwal kerja, keuangan, bahkan bayangan lima tahun ke depan, semua saya tata sendiri. Dan setiap kali hasilnya melenceng sedikit saja, saya marah. Kepada keadaan, kepada orang lain, dan pelan-pelan kepada diri sendiri yang tidak sanggup menjaga semuanya tetap rapi. Sampai ada titik di mana tubuh dan pikiran saya menolak untuk terus waspada. Di situlah Alkitab memberi kalimat yang sebelumnya hanya saya anggap hafalan. Amsal 3:5-6 tidak pernah terdengar seberat itu sampai saya membaca pelan-pelan: "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." Bagian paling mengganjal buat saya bukan kalimat "percayalah". Mengatakan percaya itu gampa...
Postingan terbaru

Panduan Remaja Kristen Menemukan Jati Diri menurut Alkitab

Beberapa kali dalam sebulan terakhir saya melihat anak-anak muda berganti foto profil, berganti gaya bicara, berganti selera musik, mengikuti tren terbaru. Bukan hal yang salah, semua orang pernah melakukannya. Hanya saja di balik semua pergantian itu tersimpan pertanyaan jati diri sederhana: saya ini sebenarnya siapa? Pertanyaan itu kerap datang di malam hari, saat ponsel sudah mati dan kamar sedang sunyi. Usia remaja memang musim paling membingungkan untuk urusan identitas. Baru kemarin merasa dewasa, hari ini merasa belum siap apa-apa. Sekolah menuntut nilai, media sosial menuntut penampilan, orang tua menuntut tanggung jawab, teman menuntut kesetiaan. Di tengah tuntutan yang saling tarik itu, wajar kalau banyak anak muda Kristen bertanya-tanya di mana Allah dalam semua kebingungan ini. Tulisan ini mencoba menjawab dari sisi yang jarang dibuka: apa kata Alkitab tentang siapa kita, sebelum dunia sempat memberi label. Sebelum Dunia Memberi Label Kejadian 1:27 mencatat kalimat ...

Cara Mendidik Anak di Zaman Digital Menurut Alkitab

Perubahan paling senyap dalam keluarga modern terjadi di meja makan. Dulu tempat itu penuh cerita, sekarang sering sunyi karena tiga atau empat kepala menunduk ke layar masing-masing. Tidak ada resep sempurna di artikel ini, dan saya tidak akan berpura-pura ada. Yang ada hanyalah pengamatan seorang penulis yang ikut bergumul dengan pertanyaan yang sama: bagaimana mendidik anak zaman layar tanpa kehilangan hati mereka? Persoalan gadget sudah menjadi ujian iman keluarga zaman ini. Banyak orang tua bertanya berapa jam anak boleh memegang ponsel, padahal pertanyaan lebih tajam berbunyi: siapa yang membentuk hati anak ketika layar menyala? Alkitab memang tidak menyebut kata teknologi, tetapi prinsipnya melampaui zaman. Kehidupan yang kita jalani di depan mereka itulah yang membentuk anak, bukan program yang kita rancang. Rumah Adalah Sekolah Pertama Perintah paling tua tentang pendidikan anak ada di Ulangan 6:6-7. Musa menulis, "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini har...

Kasih Karunia: Anugerah Cuma-Cuma yang Tidak Layak Kita Terima

Setiap kali melihat tulisan "gratis" di etalase toko, saya langsung curiga. Pasti ada syarat di baliknya, atau barangnya sudah kedaluwarsa. Saya membawa kecurigaan yang sama ketika membicarakan kasih karunia, dan saya duga banyak orang Kristen mengalaminya. Kedengarannya terlalu bagus untuk jadi kenyataan: Allah memberi tanpa menagih apa pun. Justru di situlah kabar baiknya berada, dan gereja selama dua ribu tahun tidak berhenti memberitakannya. Definisi yang umum berbunyi begini: kasih karunia adalah kemurahan Allah kepada orang yang tidak layak, kebaikan yang Allah berikan kepada orang yang tidak berhak menerimanya. Rumusan ini saya ambil dari GotQuestions.org, dan ia menolong saya membedakan anugerah ini dari sekadar kebaikan hati. Allah memang baik kepada semua orang. Anugerah ini berbicara lebih spesifik. Ia memberkati orang yang justru pantas menerima sebaliknya. Kebaikan untuk Orang yang Tidak Layak Paulus meletakkan dasar kasih karunia dalam Roma 3:23-24: ...

Kesaksian Kristen Nyata: Keluarga Besar Bertobat Satu per Satu

Sebelas bersaudara, dan hanya satu yang percaya Yesus. Kesaksian Kristen nyata ini bermula dari pernikahan 46 tahun lalu. Suami Ibu Lily T. adalah anak kesepuluh dari sebelas, satu-satunya orang Kristen di keluarganya ketika mereka menikah. Mertuanya sudah sepuluh kali menikahkan anak-anaknya dengan upacara sembahyangan. Saat giliran pasangan muda ini tiba, mereka memilih menikah di gereja. Mama memperbolehkan. Malam itu juga salah satu anggota keluarga bermimpi melihat peti mati di rumah mereka. Bagi keluarga itu, mimpi itu pertanda buruk. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tidak ada yang terjadi. Justru Tuhan memberkati keluarga kecil baru itu berlebihan, melebihi saudara-saudara yang lain. Cerita lengkapnya saya baca di Majalah Gema Ilahi, publikasi Gereja Pantekosta Tabernakel Kristus Gembala Ajaib (GKGA) Surabaya, edisi 26 April 2026. Ibu Lily menuliskannya sendiri, tanpa hiasan. Baris demi baris ia menceritakan bagaimana Tuhan menjangkau satu keluarga besar yang menyem...

Belajar Bersyukur: Kebiasaan Kecil yang Mengubah Hati

Orang mudah bersyukur biasanya bukan tipe yang hidupnya paling mulus. Saya sudah lama menyadari itu. Setiap kali bertemu orang dengan mulut penuh ucapan terima kasih, ceritanya jarang tanpa air mata. Sebaliknya, orang dengan segalanya berjalan lancar justru sering paling cepat mengeluh. Syukur ternyata tidak menunggu keadaan baik. Ia semacam otot, tumbuh justru saat kita memakainya di tengah keadaan yang tidak kita pilih. Perintah, Bukan Pilihan Paulus menulis kalimat sederhana kepada jemaat di Tesalonika: "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu" (1 Tesalonika 5:18). Bukan "dalam keadaan baik", melainkan "dalam segala hal". Jemaat Tesalonika sendiri sedang tidak hidup enak. Paulus menulis surat ini tidak lama setelah mereka mengalami penganiayaan, dan kalimat itu tetap ia taruh di sana. Kalau syukur adalah perintah, berarti ia bukan menunggu rasa. Kita tidak perlu merasa bersyukur d...

Saat Tuhan Diam: Renungan Kristen tentang Penantian

Tidak ada yang lebih melelahkan daripada doa yang tidak kunjung mendapat jawaban. Kita sudah memohon dengan jujur, sudah menunggu berminggu-minggu, lalu langit tetap sunyi. Tuhan mendengar semuanya, hanya saja jawaban-Nya memilih waktu yang tidak pernah kita pahami. Daud pernah berada di titik itu, dan ia berani menuliskannya. Daud membuka Mazmur 13 dengan empat kali mengulang pertanyaan yang sama: "Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?" (Mazmur 13:2). Pemazmur itu duduk di hadapan Allah dan bertanya, kapan jawabannya tiba. Empat Hari di Betania Kisah Lazarus di Yohanes 11 memperlihatkan keheningan Tuhan dalam bentuk paling menusuk. Yesus menerima kabar bahwa Lazarus, sahabat yang Ia kasihi, sakit keras (Yohanes 11:3). Jawaban-Nya berbunyi: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah" (Yohanes 11:4). Lalu Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat-Nya ...